Share/Bookmark

Penetapan Idul Fitri 1 Syawal 1432 H

Kemungkinan besar adanya perbedaan penetapan tangal 1 Syawal 1432 H, jauh-jauh hari Majlis Tarjih dan Tajdid Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 syawal 1432 H, jatuh pada tanggal 30 Agus 2011. Perbedaan ini timbul karena masing-masing pihak menggunakan metode yang berbeda dalam penentuan awal bulan dalam penanggalan hijriah. Untuk penentuan awal bulan, ada yang hanya menggunakan hisab (perhitungan) saja, ada yang hanya menggunakan rukyat (pengamatan) saja, dan adapula yang mengabungkan hisab dan rukyat.
Selama ini Muhammadiyah menggunakan Hisab dengan metode Wujudul Hilal yang berarti berapapun derajatnya, apabila hilal sudah berumur, telah wujud, maka dipastikan esoknya merupakan awal bulan. Sedangkan pemerintah menggunakan Imkanu Rukyat dengan mensyaratkan dua derajat. Rukyat akan susah dilaksanakan jika ketinggian hilal masih dibawah 5 derajat, padahal posisi hilal pada waktu 1 syawal menurut versi Muhammadiyah, masih di posisi 1 derajat. Sedangkan ahli astronomi masih menyangsikan kemampuan manusia dalam melihat hilal di posisi kurang dari 5 dera, rekor melihat hilal sampai saat ini ada di angka 5 derajat.

Sedangkan asal perintah penetapan puasa dan hari i'ed dalam islam adalah rukyatul hilal

"Janganlah kamu berpuasa hingga kamu melihat hilal dan jangan pula berbuka hingga kamu melihatnya. Jika cuaca mendung (sehingga kamu tidak dapat melihatnya) maka hendaklah kamu mentaqdirkannya. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibn 'Umar)"

Dari hadist tersebut, jelas perintah untuk menentukan awal puasa dan hari i'ed adalah rukyatul hilal. Jika hilal tidak nampak, bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Sebagaimana hadits dalam Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah ia berkata, Nabi shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

"“(Jika hilal tidak tampak), genapkanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari”

Adapun hisab, belakangan dilakukan ulama tabi’in seperti Mutharrif bin Abdillah yang mempergunakan hisab falakiyah untuk menetapkan awal bulan puasa. Al-Hithabi dari kalangan ulama Malikiah di dalam kitab Mawahibul Jalil (juz 2: 288) berpendapat: “La ba’asa bil i’timadi ‘ala qaulil Munjamin” (tidak ada halangan berpegang kepada pendapat ahli hisab), demikian pula pendapat al-Allamah Ibnu ‘Abidin dalam kitab Rasailnya. Sementara itu Abu Abbas Ibnu Suraij dari kalangan fukaha’ Syafi’iyah berpendapat boleh menggunakan hisab untuk mengetahui awal bulan puasa dan berhari raya, begitu pula al-Qadli Abu Thaib.

Selain itu, dalil rukyat merupakan dalil berdasarkan illat, yang maksudnya bahwa Rasul melakukan rukyat karena saat itu ummat islam belum mempunyai kemampuan dalam perhitungan. Ilat perintah rukyat ini disebutkan terpisah dalam hadis lain, walaupun keduanya masih sama-sama dalam kitab puasa. Hadis yang menerangkan ilat perintah rukyat itu adalah sabda Rasulullah saw,
“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummiyah, tidak (bisa) menulis dan tidak (bisa) menghitung, hilaal adalah begini dan begini” [riwayat jamaah ahli hadis].

Menurut ulama-ulama besar seperti Syeikh Muhammad Rasyid Rida perintah rukyat (melihat hilal) itu adalah perintah berilat dan ilatnya adalah karena umat pada umumnya di zaman Nabi saw adalah ummi, yakni belum mengenal tulis baca dan belum bisa melakukan perhitungan hisab.

Hadits diatas sangat pokok dalam masalah hisab, karena seakan-akan Rasulullah mengatakan bahwa berpegang kepada rukyat mata telanjang itu lantaran kebanyakan umat Islam di masa beliau buta aksara, belum mengenal ilmu hisab. Bahkan Al-Asqallani dalam kitab monumentalnya Fathulbari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “La naktubu wala Nahsubu (tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung)” adalah kebanyakan penganut Islam dan dimaksud dengan perkataan “hisab” di sini perhitungan bintang (hisab) dan digantungkan hukum puasa dengan “rukyah” semata-mata untuk menghilangkan kesulitan (raful haraj), Fathulbari (juz 4: 127)

Di Indonesia sekurangnya ada dua aliran yang berkembang, yaitu hisab berdasarkan wujudul hilal dan hisab berdasarkan imkanur rukyat. Hisab berdasarkan wujudul hilal pada prinsipnya menetapkan masuk awal bulan baru jika hilal telah terbentuk (setelah ijtimak) dan saat itu masih berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Aliran ini tidak mempermasalahkan apakah hilal tersebut bisa diamati atau tidak.

Pada hisab berdasarkan imkanur rukyat, masuknya awal bulan baru ditetapkan jika pada saat matahari terbenam, hilal masih berada di atas ufuk dan telah memenuhi kriteria bisa diamati. Departemen Agama mengambil kriteria tinggi minimum hilal bisa diamati adalah 2 derajat.

B U K A N Minal Aidin Wal Faidzin

Assalamu’alaikum wr wb

Semoga bermanfaat! sebuah artikel yang insya Allah meluruskan kekeliruan tentang kebiasaan berjuta muslim di Indonesia tentang ucapan di hari raya Idul Fitri.

B U K A N Minal Aidin Wal Faidzin;

Sebelum membahas kata Minal Aidin Wal Faidzin, mari kita perhatikan dalil-dalil terkait yg membahas tentang ucapan ini:

“Ucapan pada hari raya dimana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied : Taqabballaahu minna wa minkum “Artinya : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Majmu Al-Fatawa 24/253]

Jubair bin Nufair:

“Para sahabat Nabi Shallallaahu’alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabballallaahu minna wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] Dalam ‘Al Mahamiliyat’ dengan Isnad nya Hasan

Muhammad bin Ziyad berkata:

“Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallaahu’alaihi wa salam. Mereka bila kembali dari shalat Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : ‘Taqabbalallaahu minnaa wa minka”

(Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259)

IMAM AHMAD menyatakan bahwa ini adalah “Isnad hadits Abu Umamah yang Jayyid/Bagus. Beliau menambahkan :

“Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallaahu a’lam.”

[Al Jauharun Naqi 3/320. Suyuthi dalam 'Al-Hawi:(1/81) : Isnadnya Hasan]

Nah, sahabat. lalu kenapa Minal Aidin Wal Faidzin?

Dikalangan masyarakat dan media Televisi berjuta-juta muslim di Indonesia sering mendengar kata ini digandengkan dengan kata ‘Mohon ma’af lahir batin’ sehingga kurang lebih begini :

“MINAL AIDIN WAL FAIDZIN - MOHON MA’AF LAHIR DAN BATIN”,

Seakan-akan (mungkin yang mengucapkan) menganggap bahwa Minal Aidin Wal Faidzin ini berarti Mohon Ma’af Lahir dan Batin.. Benarkah begitu? Coba perhatikan dan analisa sendiri jika dua frase itu diartikan secara menyeluruh dalam bahasa Indonesia yang benar:

“TERMASUK DARI ORANG ORANG YANG KEMBALI SEBAGAI ORANG YANG MENANG-Mohon ma’af lahir dan Batin”.

Sepertinya rada ngawur (maaf), karena jika demikian artinya tidak jelas. Do’a bukan (karena tidak lengkap).. dan salam juga bukan :) karena lucu saat kita artikan dari bahasa aslinya. Adapun menurut hemat saya, ya sah-sah saja selama kita tidak tahu dan itu sebatas ikut-ikutan dan SERTA tidak meniatkan bahwa Mohon ma’af lahir dan batin itu arti dari Minal Aidin Wal Faidzin

Coba lihat penerjemahan makna frase Minal Aidin Wal Faidzin dalam bahasa Arab berikut:

Min, Artinya “termasuk”.

Al-aidin, Artinya “orang-orang yang kembali”

Wa, Artinya “dan”

Al-Faidzin, Artinya “menang”.

Jadi makna “Minal Aidin Wal Faidzin” jika dipaksakan diterjemahkan kedalam kai’dah tatabahasa Arab-Indonesia yang benar adalah “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang”.

Artinya mengambang bukan?

S O L U S I

Mari perhatikan; dalam budaya Arab, ucapan yang disampaikan ketika menyambut hari Idul Fitri (yang mengikuti teladan nabi Muhammad SAW) adalah “Taqabbalallahu minna waminkum”, Kemudian menurut riwayat ucapan nabi ini ditambahkan oleh orang-orang dekat jaman Nabi dengan kata-kata “Shiyamana wa Shiyamakum”, yang artinya puasaku dan puasamu, sehingga kalimat lengkapnya menjadi “Taqabbalallahuminna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum” (Semoga Allah menerima amalan puasa saya dan kamu).

Dari riwayat tersebut dan seperti keterangan keterangan yang dipaparkan yang benar adalah dari “Taqabbalallahu…sampai…shiyamakum”. tidak satupun menyatakan ada istilah Minal Aidin wal Faidzin. Atau Tanpa minal Aidin wal faidzin.

Jadi mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin, jika kita mengucapkannya dengan niat ingin mencontoh kebiasaan Rasulullah/Ittiba’qauly, jatuhnya bisa menjadi Bid’ah, tapi kalau niatnya hanya ingin mendo’akan sesama Saudara seiman”, Insya Allah, tidak salah dan bahkan hal yang baik.

Adapun jika ingin menambahkan bisa saja ditambahkan diakhir kalimat, agar secara harfiyah aja serasi:

“Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum . Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faidzin”

Artinya, “Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, Puasa kami dan kamu. Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang yang menang.”

Ja’alanallaahu : Berarti “Semoga Allah menjadikan kita”.. sebagai tambahan untuk melengkapi, Minal Aidin wal Faidzin yang mengambang tadi..

Sekedar tambahan, bagaimana jika kita ingin mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” dalam bahasa Arab benar?

Salah satunya adalah “As-alukal afwan zahiran wa bathinan”.

Atau “Kullu aam wa antum bikhair”. yang berarti semoga sepanjang tahun Anda dalam keadaan baik-baik”,

dan, sekali lagi bukan Minal Aidin wal Faidzin… karena kata ini bukan berarti kalimat permintaan Maaf. Mungkin hanya sebuah do’a yang tidak utuh.

Demikian, Mohon koreksinya !

“Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’anallaahu minal aidin wal faidzin”

“Semoga Allah menerima amal-amal kita, Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang kembali dari perjuangan Ramadhan sebagai orang yang menang.”

Dan mari kita memohon, kepada Dzat Allah Aza wajala; Semoga kita dianugerahi untuk menikmati Ramadhan Tahun Tahun Berikutnya dengan Rizki dan Kebarokahannya,

Amiin

Merancang Basis Bulan

Sebuah minat baru di bulan telah dipicu oleh pengumuman baru oleh Presiden AS untuk mengirim Amerika untuk Mars dan untuk membangun kehadiran diperpanjang di bulan.Konstruksi struktur pada bulan akan menantang pemikiran kita dan kecerdikan. Masalah utama tidak akan gravitasi tapi bagaimana untuk menjaga bumi seperti lingkungan. Sejak Bulan memiliki suasana tidak ada tantangan akan menciptakan lingkungan hidup yang disegel dan bertekanan dengan campuran yang benar benar gas. Bahkan hidup dan ruang kerja tidak akan bangunan, seperti kita terbiasa di Bumi, melainkan seperti ruang tekanan. Beban pada dinding struktur tersebut akan besar sebagai tekanan internal akan menerapkan stres pada dinding eksternal dan kebocoran gas yang penting masalah yang pernah hadir.

Kita juga harus menawarkan perlindungan penduduk dari bahaya radiasi UV dan ancaman dampak meteorit. Menciptakan sebuah perisai untuk basis bulan akan menambah bobot struktur pendukung dan akan mengimbangi manfaat dari gaya gravitasi rendah. Diperkirakan batu di kedalaman dua meter akan memberikan perlindungan yang cukup dari radiasi.

Sebuah koloni Bulan swasembada penting untuk eksplorasi ruang angkasa lebih lanjut. Menurut penyelidikan sampel bulan, bulan mengandung deposit besi elemen (Fe), mangan (Mn), magnesium (Mg), dan titanium dalam bentuk ilmenit (FeTiO3). Ilmenit juga dapat menjadi sumber oksigen untuk menopang kehidupan.

Mendapatkan energi untuk basis mandiri seharusnya tidak menjadi masalah karena ada daerah di kutub mana hampir permanen bermandikan sinar matahari. Energi matahari sehingga dapat ditangkap dengan hati-hati menempatkan panel surya di tiang. Oksigen dan air diperlukan untuk mempertahankan sistem pendukung kehidupan ekologi tertutup. Oksigen dapat diperoleh dengan proses kimia yang terlibat dalam memurnikan logam membentuk tanah bulan. Untuk setiap orang kita membutuhkan sejumlah harian 0,6 kg makanan, 0,85 kg oksigen dan 29litres air. Mari kita asumsikan bahwa kita dapat menemukan air di bulan kita kemudian memerlukan lahan yang ditanami sekitar 20 m2 untuk setiap orang untuk menghasilkan jumlah harian yang diperlukan makanan.
Skenario ini menyajikan kita dengan beberapa masalah logistik. Desain basis bulan baik di atas kertas atau dengan menciptakan model. Dalam desain Anda menunjukkan bagaimana Anda telah menyumbang untuk:
-Transportasi, pemurnian dan penyimpanan udara, air, limbah, perlengkapan dan energi.
-Produksi pangan;
- Air sintesis;
-Pembangkit listrik;
Air dan pemurnian udara;
Atmosfer bertekanan-;
-Radiasi dan perlindungan meteorit;
Air dan daur ulang limbah;
-Produksi pangan;
-Rekreasi;
-Daur ulang limbah.
Kesehatan efek dari gravitasi rendah dan tekanan udara rendah.

Teknologi Nirkabel

Wireless aplikasi untuk kemampuan baru (seperti pelaksanaan pemantauan baru dan meningkatkan fleksibilitas peralatan yang ada untuk mengurangi biaya operasi dan manajemen proses) ke industri yang mereka layani. Pada gilirannya, berbagai jenis teknologi nirkabel dan aplikasi dengan cepat muncul untuk memenuhi permintaan ini.
Perlu ditekankan adalah bahwa ada beberapa tantangan industri-spesifik, tapi banyak dari teknologi nirkabel tradisional tidak dirancang khusus untuk memenuhi tantangan ini. Tantangan-tantangan ini mencakup persyaratan keandalan yang tinggi, konsumsi daya rendah dan interferensi RF dengan lingkungan fisik di kemampuan serius untuk bekerja dengan baik, tentu saja, dan tunduk untuk biaya-efektif.
Jumlah teknologi nirkabel telah menjadi tantangan yang berkembang, sejumlah besar aplikasi nirkabel bersaing untuk ruang RF yang sama, sehingga dalam spektrum yang terlalu ramai, dan dengan tantangan yang ada terjalin. Untuk aplikasi tertentu untuk memilih yang cocok, cukup untuk memenuhi tantangan teknologi, insinyur perlu mempertimbangkan keandalan, kesederhanaan, efektivitas, ruang lingkup dan biaya transmisi dan indikator penting lainnya.
Keandalan
Di sini, keandalan mengacu pada berbagai sistem nirkabel industri di hadapan hambatan untuk berhasil menyelesaikan kasus kemampuan untuk berkomunikasi. Kita bisa karakteristik tertentu dari parameter sistem nirkabel untuk mengevaluasi keandalannya.
* Penggunaan spektrum RF: sistem komunikasi nirkabel yang digunakan oleh spektrum RF fisik
* Penerima sensitivitas: transceiver komunikasi lengkap untuk level sinyal minimum yang diperlukan diterima
* Output daya: kemampuan untuk tingkat output sinyal
* RF tangkas kemampuan: Untuk menghindari gangguan dalam spektrum RF dalam kemampuan untuk bergerak
* Imunitas: kasus gangguan pada adanya kapasitas komunikasi yang diberikan saluran.
Sifat fisik dari gelombang RF spektrum penyebabnya sangat tergantung pada lingkungan. Semakin rendah frekuensi, semakin lama panjang gelombang, semakin kecil kemungkinan untuk menjadi cair dan kehidupan khas beton bertulang dan bahan bangunan diserap.
Namun, dalam rangka untuk mengurangi dan interferensi dengan teknologi komunikasi nirkabel lainnya, RF spektrum di bawah kontrol yang kuat dari penggunaannya. Dalam spektrum RF, organisasi lokal atau internasional untuk mempertahankan hanya lisensi bebas beberapa band komunikasi, dan disebut industri, ilmiah dan medis (ISM) band. Dalam band ini, penggunaan utama dari band 2.4GHz merupakan bagian dari. Dalam band ini, karena panjang gelombang, sinyal tidak kondusif untuk transmisi RF cepat diserap oleh lingkungan industri, kita perlu untuk menilai keandalan indikator lain yang diberikan perhatian lebih.
Kita bisa menerima sensitivitas, output daya dan kebisingan kekebalan bergabung untuk membentuk yang lebih luas dan lebih penting untuk keandalan indikator - link budget. Link budget adalah sensitivitas penerima, output daya dan kebisingan imunitas dari nilai terpadu. Para sistem yang lebih tinggi sensitivitas penerima, output daya dan semakin besar derajat gangguan, link budget yang lebih besar. Link budget yang lebih besar, RF dan interferensi RF ke sistem untuk menyerap dampak kemungkinan potensi, kecil besar untuk mencapai komunikasi yang handal.
Sensitivitas penerima transceiver dan daya output sangat tergantung pada penggunaan komponen, lebih mudah untuk menilai dan membandingkan, namun imunitas sebagian besar tergantung pada transceiver nirkabel untuk meningkatkan vitalitas dan penggunaan teknologi. Saat ini digunakan untuk secara langsung meningkatkan kekebalan salah satu teknologi terbaik adalah penyebaran spektrum direct sequence (DSSS) modulasi.
DSSS modulasi adalah sifat dari sinyal yang ditransmisikan melalui pengenalan forward error correction, untuk mengurangi gangguan sinyal yang disebabkan oleh kehilangan data. Secara khusus, pemancar dan penerima DSSS berdasarkan kode pseudo-random noise bersama, data dikompilasi ke dalam bitstream yang lebih besar.
.
Chip dimodulasi menjadi sinyal RF dan dikirim keluar. Penerima dari chip demodulator sinyal yang diterima, dan membalikkan melakukan DSSS skema pengkodean. Meskipun keberadaan noise sinyal interferensi atau kesalahan demodulasi, kita masih dapat mereproduksi data asli.